Pekanbaru/Pascasarjana Uin Suska Riau – Lorong gedung Fakultas Pascasarjana tampak lebih sunyi dari biasanya, namun ketegangan terasa sangat nyata di depan pintu Ruang Sidang Utama. Di balik pintu itu, seorang mahasiswa sedang di hadapan satu meja panjang yang dihuni oleh lima pasang mata tajam: dewan penguji munaqasah.

Pekan ini, Pascasarjana UIN Sultan Syarif kasim Riau kembali menggelar rangkaian ujian munaqasah periode akhir tahun akademik. Ujian ini bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan ajang pertanggungjawaban intelektual atas riset yang telah dikerjakan mahasiswa selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Uji Mental dan Intelektual
Berbeda dengan sidang pada umumnya, formasi lima penguji dalam satu meja persidangan ini dirancang untuk memberikan penilaian yang komprehensif. Panel tersebut biasanya terdiri dari Ketua Sidang, Sekretaris, serta tiga orang penguji ahli yang membedah karya tulis mahasiswa dari berbagai sudut pandang—mulai dari metodologi, keshahihan data, hingga relevansi temuan dengan kondisi lapangan.

Menghadapi lima penguji sekaligus memang menantang secara mental. Namun, ini adalah cara kami memastikan bahwa gelar magister yang akan mereka sandang benar-benar mencerminkan kualitas akademik yang mumpuni,” ujar Abdul Hadi, MA., Ph.D. salah satu penguji senior.

Dialektika di Atas Meja Sidang
Prosesi sidang dimulai dengan presentasi singkat oleh mahasiswa, yang kemudian diikuti dengan sesi tanya jawab yang intensif. Di sinilah mentalitas mahasiswa diuji; mereka harus mampu mempertahankan argumen di bawah tekanan pertanyaan kritis.
Namun, di balik suasana formal yang mencekam tersebut, terselip sebuah harapan besar. Setiap coretan revisi dan kritik pedas dari para penguji sebenarnya adalah bentuk bimbingan terakhir untuk menyempurnakan hasil pemikiran mahasiswa sebelum akhirnya dilepas ke masyarakat.
Menuju Gerbang Kelulusan
Bagi para mahasiswa, momen ini adalah “Langkah Akhir” yang paling krusial. Keluar dari ruangan sidang dengan wajah lega setelah dinyatakan lulus bukan hanya tentang meraih gelar, melainkan tentang menuntaskan janji kepada orang tua dan diri sendiri.
Hingga hari ini, tercatat sebanyak 10 mahasiswa telah dijadwalkan untuk mengikuti ujian munaqasah pada periode ini. Dengan semangat yang tersisa, mereka melangkah menuju satu meja itu, membawa tumpukan draf tesis, dan membawa pulang satu kepastian: masa depan yang baru saja dimulai.

